Rabu, 21 Desember 2011

" Semangatku Cahaya Fajar "

Diposting oleh Ela Agustin di 19.57
Aku tidak ingat kapan kenal dia. Tiba-tiba saja dia hadir. Menjadi bagian dari potongan-potongan hariku. Kadang dia tangis, kadang dia tawa. Datang dan pergi kapan dia suka. Dia fajarku. Fajar yang selalu memberi aku semangat, seperti fajar yang menyingsing di pagi hari.
            Suatu hari ketika aku duduk di taman dia menyapaku. “Pagi Rara.” Sebenarnya namaku Ndyra, tapi kebanyakan teman-teman memanggil aku Rara.
            “Pagi juga Fajar.” Jawabku dengan sebuah senyuman.
            Ku hela nafas. Ku ingat kembali apa yang dia ucapkan tadi. Begitu singkat, tapi itu sangat berarti untukku. Aku menghayalkan andai saja dia tau bagaimana perasaanku. Gara-gara terlalu asyik menghayal bel masuk pun tidak terdengar, untuk ada Mang Supri penjaga sekolah yang sedang membersihkan taman.
“Neng Rara udah bel tuh...” sambil menepuk pundakku.
            “Oh iya Mang.” Dengan ekspresi terkejut dan malu sambil berjalan meninggalkan taman.
            Aku menuju kelas 11.A.2 yang terletak di dekat ruang perpustakaan dan bersebelahan dengan kelas Fajar 11.A.1. Saat aku sampai di kelas suasana kelas begitu gaduh dan ramai seperti di pasar saja, maklum baru selesai Ulum. Jadi untuk mengisi jeda semester, OSIS mengadakan kegiatan PORKELAS (Pekan Olah Raga Kelas).
            “Ra, kamu panitia Porkelas bukan?” tanya Sendy padaku.
            “Bukan Sen, aku kan MPK, jadi gak masuk panitia.”
            “oh iya, aku lupa”.
            “MPK cuma hadir pas LPJ aja Sen.”
            “Iya Ibu MPK...” Sendy berlalu dari hadapanku dan kembali bercanda dengan teman-temannya.
            Sebenarnya dulu aku ingin sekali masuk menjadi staf BHP OSIS, tapi apa mau dikata aku malah terpilih menjadi ketua MPK. Meskipun jabatanku ada di atas OSIS tetap saja aku kecewa tidak bisa menjadi staf BPH OSIS. Dan yang jadi ketua OSIS sekarang malah Fajar. Dulu aku sempat membenci Fajar, karena dia pergi ketika pemilihan ketua MPK dan terpaksa aku yang menggantikan dia. Mengingat itu hatiku malah sedih. Tapi entah apa yang terjadi sekarang aku malah dekat dengan fajar, banyak waktu yang kita lewati bersama semua kebencian itu tiba-tiba hilang dan berubah menjadi kasih sayang. Daripada mengingat-ingat kenangan pahit, lebih baik liat yang lagi tanding basket sama temen-temen.
            "Mending nonton basket yuk!!!"'ajaku pada Richa.
            “Yuk... aku juga mau nonton kak Rizky yang lagi maen...”
            “Eummmh...”
            “Eh kak Bagas juga maen lho”
            Bagas itu temen dekatku, aku sama dia udah hampir satu tahun dekat dengannya, tapi selama ini aku belum bisa sepenuhnya suka sama dia
            Waktu aku dan Richa mau ke lapang basket tiba-tiba ada orang yang narik aku dari belakang.
            “Mau kemana?” ternyata Fajar.
            “Aku mau ke lapang basket, lepasin tangan aku sakit nih...!!”
            “Maaf...,” sambil melepaskan pegangan tangannya.
            “Ada apa sih Jar?” tanyaku.
            “Bantu aku di ruang osis yah...!! semua BPH kan gak ada yang nganggur jadi bantuin aku buat LPJ!!” sambil memohon dengan wajah memelas berharap aku membantunya.
            Aku pura-pura berpikir, dan dengan candaanku, aku bilang.. “Oh... tidak bisa... hahaha...”
            “Rara aku serius...”
            “LPJ itu buat dikasih ke aku masa aku bantu kamu.”
            Tiba-tiba Richa angkat bicara.
            “Ya udahlah Ra, bantu aja, ga ada dosa juga kan?”
            “Bukan masalah dosa Cha, tapi itu udah jadi peraturan.” Ucapanku pada Richa.
            “Ya...ya...ya... terserah ibu ketua saja deh... hihihi...”
            “Udah akh kebanyakan ngomong.” Fajar tarik tangan aku dan menyeretku menuju ruang OSIS sambil berteriak, “Richa aku pinjam teman kamu dulu yach...?” terdengar suara Richa dari jauh.” Silahkan pergunakan dengan baik, hahaha...” Richa tertawa begitu puas.

            Sesampainya di ruang OSIS dia menghadapkanku pada sebuah laptop inventaris OSIS.
            “Apa-apaan ini??” ucapku dengan nada memprotes atas apa yang dia lakukan padaku.
            “Liat kerjaanku, mana yang salah terus perbaiki.”
            Aku tidak bisa menolak apa yang dia katakan lagi pula menolong orang itu kan tidak berdosa seperti yang dibilang Richa, malah mendapat pahala. Aku mulai memeriksa pekerjaannya dan membetulkan jika ada yang salah. Asal bisa dengannya, meskipun harus ikut pusing mengerjakan LPJ-nya tidak akan jadi masalah buatku, karena aku selalu bisa tertawa lepas jika berada di dekatnya.
            “Ra, kalau aku pergi kamu bakal sedih gak??” tiba-tiba Fajar bertanya seperti itu padaku.
            “Ngapain pergi, emang mau kemana??” aku menjawab dengan candaan kita seperti biasanya.
            “Serius tau...”
            “Aku gak mau kamu serius, udah gak usah ngebahasnya. Lagi pula kamu gak akan mungkin tinggalin aku sendiri.”
            Fajar hanya terdiam dan dia menatap mataku. Aku pun ikut memandangi matanya yang hitam pekat. Ada sinar di sana. Berupa gelombang yang memancar langsung ke pusat syarafku. Menggerakkan otot motorik mulutku untuk membuka dan mulai bersuara, “Ada yang mengetuk pintu...” muka Fajar langsung merah dan sedikit kesal. “Gak bisa ngomong yang laen yah?? Ucapanmu merusak suasana.”
            Aku hanya tersenyum dan melanjutkan tugasku memeriksa pekerjaan Fajar, tapi aku sangat terkejut waktu Fajar buka pintu dan yang berdiri di depannya itu kak Bagas.
            “Jadi kalian berdua di sini!!” ucap kak Bagas dengan nada penuh amarah.
            “Masuk Kak!!” Fajar mengajaknya masuk ke dalam dan Kak Bagas berjalan menghampiriku.
            “Ikut aku sekarang!!”
            Dengan wajah menunduk aku menjawab, “Ikut ke mana Kak??”
            Tanpa pikir panjang Kak Bagas menarik tanganku dan membawaku keluar dari ruang OSIS. Fajar berusaha mencegah, tapi aku melarangnya dengan menggelengkan kepalaku menandakan aku akan selesaikan masalah ini dan aku baik-baik saja. Kak Bagas membawaku ke taman sekolah dia terlihat begitu marah.
            “Kamu tuh kenapa sih Ra, aku kan udah bialng jauhi Fajar. Kamu lupa sama aku, atau kamu memang sengaja?” bentak Kak Bagas padaku. Aku belum pernah melihatnya semarah ini.
            “Aku Cuma bantu Fajar.” Aku gak membela diri...
            “Bantu apa?? Kamu gak sadar kalu dia suka sama kamu, kamu juga gak sadar banyak orang yang nganggap kalian berdua tuh pacaran, ke mana-mana berdua, pulang sama-sama dan masih banyak hal yang kalian lakukan berdua. Kamu anggap aku apa selama ini. Kenapa kamu nggak ngargai aku yang sayang sama kamu??” Emosi Kak Bagas semakin meluap-luap.
            “Cukup Kak, jangan salahkan aku terus, dari dulu aku selalu bilang, aku cuma anggap Kak Bagas seperti kakak aku sendiri gak lebih. Jadi aku mohon jangan pernah melarangku dekat dengan Fajar, lebih baik sekarang Kak Bagas tinggalin aku sendiri!”
            Kak Bagas meninggalkan aku sendiri di taman. Aku bingung pada siapa harus mengadukan semua kesediahan ini. Ku buka tasku dan aku mengambil buku diaryku, di sinilah ku tuliskan semuanya tentang kebahagiaan dan kesedihanku, berbagi bersama salah satu sahabat terbaikku yaitu diary. Ketika aku sedang menulis, ada yang memegang pundakku dari belakang.
“Jangan bersedih lagi Ra!!” ternyata dia Fajar. Aku masih duduk terdiam tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutku.
            “Udah jangan sedih!! Dasar cengeng.” Begitulah caranya menghiburku, dia selalu mengejekku seperti itu. Semua hal yang dia lakukan selalu membuatku tersenyum, mengembalikan semangatku dengan cahayanya. Cara yang dia miliki seperti cahaya fajar yang membangunkan makhluk hidup dari tidur panjangnya dan memberi semangat baru untuk memulai harinya.
            “Aku itu gak cengeng.”
            “Kalau gak cengeng, harus senyum dong. Kayak gini.” Ucapnya sambil tersenyum. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman lagi.
            “Pulang yuk!!! Udah sore, acaranya juga udah kelar.”
            “Iya..., aku juga sudah ingin pulang.”

            Acara hari ini, di sekolah adalah final semua cabang olah raga yang diperlombakan. Tapi ada yang berbeda hari ini. Aku tidak melihat sosok Fajar. Aku mencarinya ke setiap sudut sekolah tapi aku tidak menemukannya. Lalu aku menanyakan pada teman sekelasnya, tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Mereka semua tidak tahu kenapa Fajar tida masuk sekolah. Aku berusaha menghubungi nomor handphone-nya tetapi tidak ada jawaban. Aku tidak tahu Fajar ke mana.
            “Kamu kenapa Ra?” tanya Richa padaku
            “Aku lagi bingung, hari ini Fajar gak masuk sekolah?”
            “Oh... tadi aku dari TU terus dititipin ini sama guru TU katanya surat izin gak masuk sekolah dari Fajar.
            “Emangnya Fajar ke mana?”
            “Tadi kata Pak Ramlan, dia pergi ke Jogja. Katanya sih ada urusan keluarga. Mungkin ada keluarganya yang sakit.”
            “Oh...”
            “Udahlah gak usah sedih!!”
            Richa mencoba menghiburku dan mengajakku nonton final basket, karena hari ini puncak dari semua acara yang berarti ditutupnya kegiatan OSIS dan hari terakhir sekolah, juga pembagian laporan hasil belajar siswa. Semua siswa bersorak ria yang menandakan hari libur sekolah telah tiba dan saatnya membuat jadwal liburan.
            Selesai dibagi LHBS (Laporan Hasil Belajar Siswa) aku langsung pulang. Sampai di rumah aku mencoba menghubungi Fajar lagi tetapi tidak ada jawaban sama sekali. “Aku akan mencoba menghubunginya nanti malam.” Malamnya aku terus menghubunginya dan hasilnya tetap sama.
            Dari hari ke hari aku terus menunggu kabar darinya dan hasil yang aku peroleh masih sama, tetap saja tidak ada kabar. Aku ingin pergi ke rumahnya tapi aku tidak tahu alamat rumahnya. Aku memutuskan menunggu sampai masuk sekolah. Kalau nanti aku bertemu dia, aku akan memukulinya karena dia membuat hatiku khawatir.

            Dua minggu aku tidak bertemu dengannya. Tidak melihat matanya yang hitam. Tidak mendengar suaranya. Aku rindu. Makanya aku langsung menuju kelasnya, tapi dari kejauhan aku melihat Pak Ridwan melambaikan tangannya padaku. Aku pun bergegas menuju ruangan Pak Ridwan.
            Sesampainya di ruangan Pak Ridwan, aku menyapa pembina OSIS yang sedang duduk di meja kerjanya. “Permisi Pak!! Pak Ridwan mempersilahkanku untuk duduk. “Ayo duduk!!”
            “Begini Ra, Bapak mau menanyakan sudah sejauh mana persiapanmu??” aku tidak mengerti dengan pertanyaan yang Pak Ridwan maksud.
            “Maaf Pak, persiapan apa?”
            “Lho... kamu gak tau?”
            “Maksud Bapak?”
            “Tidak ada yang memberitahumu??”
            Aku hanya menggelengkan kepalaku.
            “Keterlaluan mereka, padahal ini sangat penting. Kamu harusnya sudah mendapatkan pengganti Fajar sebagai ketua OSIS.” Aku tidak mengerti kenapa Pak Ridwan ingin menurunkan Fajar dari posisinya sebagai ketua OSIS.
            “Memangnya dia kenapa Pak? Apa dia melakukan kesalahan??”
            “Dia kan sudah pindah ke Jogja, jadi untuk menjalankan roda organisasi harus ada penggantinya. Bapak pikir kamu sudah mendapatkan penggantinya.”
            Aku terdiam dan mencoba memahami kalimat pertama yang diucapkan Pak Ridwan.
            “Jogja.” Hanya itu yang terucap dari mulutku.
            Aku langsung berlari keluar dari ruangan itu menuju ruang TU sekolah untuk menanyakan alamat rumah Fajar. Aku berlari keluar gerbang sekolah dan memberhentikan angkutan umum menuju rumah Fajar dengan satu harapan kecil dia belum pergi.
            Sesampainya di sana, aku kembali terdiam saat melihat rumah Fajar sepertinya telah lama ditinggalkan. Aku melihat ada seseorang yang sedan menyapu halaman, ternyata dia tukang kebun keluarga Fajar yang sekarang bertugas menjaga rumah Fajar. Tukang kebun itu menghampiriku.
“Neng ini temannya Den Fajar yah?? Namanya Mba Rara?” Aku bingung kenapa bapak ini bisa tahu siapa aku.
“Tunggu sebentar ya Neng!!”
Aku menunggu tukang kebun itu.
“Ini Neng.” Sambil menyodorkan sebuah bungkusan kado padaku.
“Den Fajar berpesan, katanya akan ada seorang wanita yang datang mencarinya dan saya disuruh memberikan ini.”
“Makasih ya Mang.”
“Iya, sama-sama.”
Aku membuka bungkusannya, ternyata isinya buku diaryku. Aku baru ingat, dua minggu terakhir ini aku tidak menulis di diary ini. Tapi kenapa ada di Fajar? Aku membukanya dan menemukan sebuah surat, lalu aku membacanya.

Dear: Ndyra J
            Saat kamu membaca surat ini, aku sudah di Jogja. Maaf, aku pergi mendadak dan tidak memberitahumu. Aku tidak ingin membuatmu bersedih. Kamu pasti bingung kenapa diary ini ada padaku. Waktu kamu nangis di taman, kamu lupa membawa pulang diary ini dan aku mengambilnya. Aku membaca semuanya. Aku bahagia. Ternyata perasaan kita sama. Aku bukan orang yang pandai mengukir sebuah kalimat indah, tapi kamu harus tau tentang itu.
            Entah apakah setelah kepergianku hatimu tetap sama atau malah membenciku?
            Aku tidak ingin menghancurkan persahabatan kita dengan menjalin suatu hubungan. Kamu juga begitu kan? Tapi aku ingin kamu tetap menungguku, apapun yang akan terjadi, dengan siapapun kamu kelak, aku akan datang kembali menemuimu 5 tahun yang akan datang.
            Tunggu aku di taman sekolah tepat tanggal 4 Februari 2015. Aku akan datang.
            Tetaplah semangat dan tersenyum.

                                                                                                Fajar


            Air mataku menetes karena kehilangan cahaya penyemangatku, kehilangan sahabat terbaikku. Ku lihat sat kertas yang masih terlipat, ternyata sebuah lagu yang sering kita nyanyikan bersama, hanya Fajar mengubah sedikit potongan lirik lagu ini.

            “Andai saja aku bisa menemani dirimu di sana, pasti akan ku jalani semua karena hanya dirim sahabat terbaikku...”
            Aku yakin itu. Fajar akan selalu mengingatku sebagai sahabat terbaiknya. Aku tidak akan membencinya. Aku akan menunggu sahabatku. Dan aku akan tetap bahagia dan tersenyum untuknya.



Epilog.
            Kota Hujan, awal tahun pelajaran genap di tahun 2010.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Diary Ubby Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review